Bina Gambar Poker Anda

Questo blog non usa affiliazioni, adsense e altri mezzi di guadagno e resta rigorosamente a uso NON commerciale. Per ottenere la permanenza di questo articolo oltre 10 giorni dalla data della sua pubblicazione sono gradite libere donazioni indicanti il titolo dell’articolo nelle causali di versamento.


Pementasan poker nang mengandalkan kreasi gambar berpunya di aspek lain berasal Agen poker beralas aturan maupun taktik, meskipun semua ini penting bikin permainan yang baik. Cerminan menyangkut antero orang dekat meja beserta total antero yang Anda ketahui tentang lawan Dikau dan antero yang Engkau beri tahu ihwal Anda. Opname kadang-kadang akan menyebabkan Dikau membuat gelagat yang menurut lawan Dikau aneh alias salah dipahami.

Lawan Dikau berusaha menafsirkan setiap aksi Anda maupun kekurangannya. Sedia saat-saat ideal untuk memendam gambar Dikau dan adakala ketika itu layak dipajang. Jumlah akan berlagak dengan bayangan yang mengaburkan pemikiran dan tindakan menazamkan dan kira-kira akan memajukan tampilan aksi utama dengan banyak suasana dan keriuhan yang amat dapat mengacaukan dan memecahkan kepala lawan.

Umpama Anda cita-cita meningkatkan arti Anda bersama beberapa celengan dan kemudian mundur, bale bengong adalah solusinya. Tetapi umpama Anda cita-cita mengorbankan saat ini untuk keuntungan jangka mancung, Anda demi membuat bersama memproyeksikan cerminan. Anda agak-agak membuat jumlah gerakan berat sebelah dalam cuaca tertentu. Awak akan ambau di sini, tetapi berbobot situasi nang sama pada masa depan, demi tangan Dikau kuat dan Anda ialah pemain yang baik, jumlah lawan andal akan membeberkan permainan pada awalnya dengan ketupat bengkulu lumpuh, bersama yang bukan hanya akan membingungkan Awak karena aneh Anda. dari prediktabilitas. Desain semacam ini boleh memberi Engkau hasil jangka panjang dan secara sensibel meningkatkan angka tangan langgeng Anda.

Anggota catur memasang strategi berasa gambar cukup banyak. Apakah kekuatan aktor diketahui Awak atau lain, ia gerangan membuat gerakan buruk yang kredibel maupun bahkan ajaib atau bahlul. Dia akan mengorbankan babak, gagal menjaga posisinya, ataupun mengambil kapasitas. Lawannya mau kehilangan hadap karena permainannya yang busuk. Pemain beralas gambar buntutnya akan mengamalkan sapuan bonyor pada bahan-bahan berharga ataupun menyerang bercak lemah yang bahkan tidak seorang jua berpikir bikin menjadi fokusnya.

Strategi lakukan kedua game adalah egaliter pada intinya. Keuntungan kini dikorbankan bikin keuntungan nang lebih pertama di jalan. Daripada bermain setiap bogem mentah untuk potensi penuh, Engkau melihat manfaat masa depan nang kurang nyata tetapi kian besar. Kendatipun langkah Awak saat ini kelihatannya sangat bebal dan bubuh Anda hendak posisi yang kurang mengayakan, Anda mau pulih akhirnya dalam atraksi dan melakukannya dengan panas hati. Ini adalah permainan beralas gambar nang terbaik..

Dikau perlu berlatih memproyeksikan berbagai gambar. Anda akan membesarkan diri awak di mana gerakan “buruk” harus dilakukan untuk jangkau tujuan mana dan dengan citra segala apa. Anda barangkali ingin mengacaukan lawan Engkau hanya berisi situasi intoleran yang membawa-bawa keterampilan Anda. Atau, Awak mungkin cita-cita membuat membuat terkesan bukan main lemahnya gim Anda, atau bahwa Engkau adalah bluffer abadi.

Tidak diragukan dan lebih bajik untuk memperkirakan gambar segala apa yang Awak pilih dalam awal atraksi ketika bank rendah. Umpama Anda mencoba ini buat bank telah berkembang ke jumlah nang rapi, jumlah langkah “buruk” berturut-turut bisa dikenakan bayaran lebih berbagai macam daripada yang dapat Anda menangkan bakal akhirnya.

Hits: 38

Grazie per la donazione

Grazie per la donazione


L’Associazione culturale “Da Ischia L’Arte – DILA” ringrazia per la spontanea donazione utile alla gestione di questo blog che non usa affiliazioni, adsense e altri mezzi di guadagno e resta rigorosamente a uso NON commerciale.
GRAZIE!

Hits: 11

Eight Ways To Master Infiniti Kloud Without Breaking A Sweat

Eight Ways To Master Infiniti Kloud Without Breaking A Sweat

Everything that you need in a storage device is in Infiniti Kloud. Because this USB rod is enough, you need to buy any storage device.
Whether you are a writer or a photographer, you save your photos or your writings on your own PC. It is possible to use these files as your own portfolios, which is helpful when pitching to a client. But, as soon as your computer starts to act up and your documents begin to get deleted due to virus or a hard disk, this can be quite frustrating. Your months or even years of work is going to be gone in 1 snap.
Some folks tend to save their files in an ordinary USB stick or in their hard drive. However, what they do not understand is that the odds of those files getting deleted are high particularly if they get a virus or get corrupted. Luckily, one that will protect your files for as long as you need is Infiniti Kloud, that can be one of the most recent USB sticks that you could depend on.

If you are looking for a portable storage device with no cables and drawbacks of installing it and it will function the way it should. You are able to save over files that you can not risk losing or audio if you’d like to, or 40,000 pictures. With Infiniti Kloud, you don’t need to think about your computers since this stick is here to allow you to shop everything 27, getting corrup

Backing up your files will never be this simple with Infiniti Kloud. You can definitely rely upon this USB stick because it will not just secure you the documents but can enable you to arrange things. Backing them up is simple since the speed of it is outstanding at 312mb each second. Therefore, if you are in a rush Infiniti Kloud can do this for you.

Infiniti Kloud is a 3.0 USB kind, meaning it is perfect for all USB ports. There is no need for complicated setup because Infiniti Kloud is a stand-alone device. This means that as soon as you set it in your computer’s USB p

The Infiniti Kloud is a combination of the conventional cloud and USB stick. This means that as soon as you load the files required in this USB, you’ll be assured that all will also be stored in the supplier’s cloud.
One of the greatest things about Infiniti Kloud is that your data will be safe in it since it has. This can help you protect your important information in a storage place that is safe which you could bring anywhere. You can make it since it is not heavy or bulky to add weight when you when you’re traveling or anyplace you are.
Another fantastic thing about Infiniti Kloud is that it is compatible with Mac and Windows. This means that all of your information can be backed up by you regardless of what platform you have. It has a USB C adapter, meaning that it can be used by you . So no matter what information you need to store on any stage, your Infiniti Kloud will definitely get the job done well.
Maintaining important files, whether it be just or documents videos and photos of you and your loved ones is easy. The reason for this is because of the innovation of our technology now. files can be saved by people on the hard drives of their computers or external difficult drives, that could be bulky based on which one you may

Infiniti Kloud is a stick, which you may use as a backup for your files, including papers, videos, and photographs. You might save music and other things within this storage device. It’s a total of 64GB in storage, which can be for your files.
One of the greatest things about Infiniti Kloud is that it’s very simple to use. All you have to do would be to add it from your pc or laptop’s USB port, so that you can begin documents, and the USB will open on your desktop computer. You don’t have to worry about cloud subscriptionssoftware, or wires, because href=”https://www.kegbert.com/page31.php”>Infiniti Kloud Reviews Kloud is a device. You don’t have to do anything but save all of the documents you would l

Infiniti Kloud is a device, meaning you don’t have to worry about installing applications or logging in because all you have to do is to plug it. It will appear and you can save your documents there. Infiniti Kloud will surely secure everything saved in it. Thus when the time comes that you want the files, they will only be there.

The problem with hard drives that are external is that as mentioned above, they may be bulky. They are also able to be heavy and they have a href=”http://statigr.am/tag/cable%20wire”>cable wire as you will need it to connect your own external hard drive to your computer or your laptop. Luckily, you don’t need to worry about anything with Infiniti Kloud because it’s just a stick that does not require any cable for this to be attached to a USB port.
Infiniti Kloud is a USB stick, which is similar to external hard drives where you are able to save nearly whatever you need to save. You can save videos, photos that are memorable and important files, and sometimes even music and vid

Some people today use an external hard drive to save important files, but this may also be insecure as they’re also vulnerable to corruption. Some people today use a USB to store their documents, but it can get corrupted. Losing your files can be frustrating but using Infiniti Kloud, you’ll be assured that your files will be sec

Hits: 26

Il Dispari 20191230 – Redazione culturale

Il Dispari 20191230 – Redazione culturale

Il Dispari 20191230

Il Dispari 20191230 – Redazione culturale

Editoriale | Il racconto “La Notizia” al Bookcity 2019

Lo scorso 16 novembre, nell’Aula magna della SIAM (Società d’Incoraggiamento Arti e Mestieri) di Milano, l’Associazione culturale “Da Ischia L’Arte – DILA” ha presentato l’evento “Otto milioni” il cui focus è stato l’antologia di Arti varie “Magari un’emozione!” contenente, tra l’altro, alcuni brani tratti da miei racconti.
Con cadenza settimanale li stiamo pubblicando tutti in questa pagina, augurandovi una buona lettura.

DAL LIBRO
Per Aurora volume secondo
http://www.lulu.com/shop/bruno-mancini/ per-aurora-volume-secondo/paperback/product-4637203.html
IL RACCONTO
LA NOTIZIA – Capitolo 22°

[…]
-“Tu ed io faremo il colpaccio.
Scardineremo, bruceremo, annulleremo, supereremo, affosseremo, ridicolizzeremo, mortificheremo, sputeremo in faccia alla telefonata ricevuta in diretta da Bruno Imenottero.
Che vuoi che sia la sua santità, per di più soltanto al telefono, in rapporto alla realizzazione scenica in diretta della mia teoria!
Noi mostreremo la morte a schermo intero e inquadratura fissa in diretta satellitare mondovisione.
La Signora spogliata del suo decoro, della sua intimità e della sua riservatezza.
Nel momento cruciale.
La morte non sarà più immutabile, né più immortale.
Adele, vecchia patanccia padanaccia pervertita animalofila dei miei disgusti, se non la smetti di maneggiare libidinosamente il gatto nero umanizzato da Rob, ti sputo in faccia due caffè alla cicuta.
Che ne pensi Rob?
É o no una cazza di idea?”

-“Architetterò tutto rapidamente.
Va bene ci sto.
Mostreremo in diretta la decapitazione di un martire, eseguita dagli antagonisti dei nobili scopi petroliferi dei nostri finanziatori e delle civiltà loro collegate.
Farò tremare di invidia i discendenti della antica inquisizione.
Hai detto bene, ridicolizzerò Bruno Imenottero e la sua santità.
Sbatterò in faccia all’umanità, con tutta la veemenza della rabbia che mi coltivo, la morte senza veli e senza trucchi.
Signore e Signori, ecco a voi lo spettacolo unico ed irripetibile, pietoso e cruento, umano e mortale ecc.
Ancora una volta sarò il primo.
Al lavoro, e visto che la tua inutile propaggine anale, Emma, oh no, Adele, non potrà collaborare in alcuna maniera, inutile è inutile, le affiderò il gatto.
Almeno si guadagna la pagnotta.
Accompagnalo a pisciare e cagare in queste ore per noi di febbrile lavoro.
Mi raccomando Adele, ogni due ore nel vasino, e non mangiare i suoi croccantini.”…

Il Dispari 20191230 – Redazione culturale

Eccellenze femminili |Susana, la Signora dei fiori

“Nata sotto il segno di terra della Vergine”, Susana Gil nacque a Buenos Aires nel 1926.
Suo padre era l’avvocato Enrique Gil, era bella, colta e brillante.

Parlava inglese, giovanissima lavorava al British Council, dove conobbe sir William Walton, classe 1902, affascinante, stimato e famoso compositore e musicista inglese, “una personalità magnetica”, lo definì Susana.

Era il 1948, un colpo di fulmine, lui le fece una corte insidiosa, lei capitolò chiedendogli sicurezza e fedeltà.

Lui era stato donnaiolo e sciupafemmine e si sposarono pochi mesi dopo, nonostante il parere contrario dell’avvocato Gil e di tutti i familiari che avrebbero voluto un amore diverso per Susana.

I due sposi si trasferirono per breve tempo nella Londra del dopoguerra, dove lui continuò per poco i suoi adulteri.

Lei rimase incinta ma Walton non voleva figli così Susana, messa alle strette perché scegliesse di essere solo madre o moglie scelse di abortire per non perdere l’amore di William.

Feriti entrambi, i Walton decisero di andare a vivere all’estero per costruire un matrimonio sano.

William era stato a Napoli venticinque anni prima e conosceva la città di “sole e canzoni”, dove lavorare in pace alle sue opere romantiche, di sapore pucciniano.

Non fu possibile affittare una casa nella città partenopea, perché bombardata impietosamente, così scelsero Ischia, dove portarono la loro Bentley e si stabilirono presso il Convento di San Francesco, dove c’era un pianoforte.

Nel 1949 acquistarono una collina di sassi con una vista strepitosa sul mare, nel bosco di Zaro e la chiamarono “La Mortella”, per via dei mirti selvatici che crescono sul terreno roccioso e arido e perché il mirto è pianta sacra in diverse culture, nelle mitologie del passato.

Vissero a Casa Cirillo.

Nel 1956 l’amico paesaggista Russell Page progettò un giardino verticale, rispettando la naturale conformazione della collina, inserendo nelle formazioni laviche fontane, piscine, ruscelli, sculture marmoree di Simon Verity e furono piantate meravigliose piante acquatiche.

Volle creare “una poesia dello spazio” per Walton e il suo lavoro di artista.
Silenzio e bellezza.

Scalette e sentieri uniscono la parte bassa del giardino, l’ingresso, con il punto più alto dove Susana volle uno straordinario teatro che guarda sul mare di Forio.
Le rocce del giardino danno drammaticità all’ambiente naturale e Susana piantò centinaia di diverse specie di piante, acquistandole da tutto il mondo.

Prima che nel 1957 arrivasse l’acqua a Ischia, i Waltonl’ acquistavano da autocisterne e avevano costruito due cisterne sotterranee per l’acqua piovana.

Nel 1962 finalmente scavarono nella roccia vulcanica, selvaggia e suggestiva, la loro casa.

Laurence Olivier, che andava a trovarli spesso con Vivien Leigh, Maria Callas, Charlie Chaplin chiamava il loro paradiso “la cava di pietra”, per via dell’immane lavoro di scavo che necessitava il sogno di Susanne ma i Walton erano felici nel loro “idillio vulcanico”.

William, già cavaliere nel 1951 e nominato all’Ordine al merito nel 1967, fu riconosciuto come uno dei grandi uomini della musica britannica e le loro sporadiche visite in Inghilterra si trasformavano in occasioni ufficiali.

Gli ottant’anni di William furono celebrati come evento nazionale.

Per oltre cinquant’anni Susana dedicò se stessa, con la sua instancabile mitica forza, alla sua passione e competenza botanica, alla curiosità per la bellezza primordiale di Ischia ed ebbe la forza di creare un gioiello tra i più affascinanti d’Italia e del mondo, mentre William componeva musica.

Le piaceva la vita ischitana, ne conosceva la storia, donna di preziosa affabilità imparò l’italiano e il dialetto in modo da poter interagire con gli isolani, chi l’ha conosciuta la descrive intimamente innamorata del marito, piena di simpatia e fascino.

Dolcemente femminile, amava andare a fare acquisti per tutta l’isola, cucinare, ricamare, passeggiare nel giardino alla ricerca di erbe commestibili e orchidee selvatiche.

Insieme a oltre 800 specie di piante e fiori Susana portò degli uccelli “rari” come il colibrì e il merlo indiano, amava osservare i loro amori e ascoltarne il canto.

Morì l’8 marzo 1983, vent’anni dopo William.
Il loro passaggio terreno permane nel giardino dove riposano le loro ceneri “Il suo spirito tutela il giardino” dice la pietra che accoglie le ceneri di William.
Recita l’epitaffio per lei: “Questo pergolato verde è dedicato a Susana, che ha amato teneramente, ha lavorato con passione e creduto nell’immortalità“.

Sembra di poterla incontrare nel giardino, nelle grotte, sulle scale, col suo gusto eccentrico per l’abbigliamento, i cappellini divertenti, il sorriso.

Il loro amore per la bellezza risuona ancora in quel luogo magico.

Susana rimase vedova per oltre vent’anni.
Non volle risposarsi perché l’amore con William era stato “troppo forte per essere ripetuto“.
I nostri cuori sussultavano durante le nostre passeggiate pomeridiane, quando sedevamo su quelle grandi pietre a guardare verso il mare

Lucia Fusco

Il Dispari 20191230 – Redazione culturale

Il Dispari 20191230

Il Dispari 20191230 – Redazione culturale

Il Dispari 20191230Il Dispari 20191230 – Redazione culturale

Il Dispari 20191230

Il Dispari 20191230 – Redazione culturale

 

Il Dispari 20191216

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

Editoriale | Anche “Vasco e Medea” al Bookcity 2019

Lo scorso 16 novembre, nell’Aula magna della SIAM (Società d’Incoraggiamento Arti e Mestieri) di Milano, l’Associazione culturale “Da Ischia L’Arte – DILA” ha presentato l’evento “Otto milioni” il cui focus è stato l’antologia di Arti varie “Magari un’emozione!” contenente, tra l’altro, alcuni brani tratti da miei racconti.
Con cadenza settimanale li stiamo pubblicando tutti in questa pagina, augurandovi una buona lettura.

Bruno Mancini DAL LIBRO
Per Aurora volume primo
http://www.lulu.com/shop/bruno-mancini/per-aurora-volume-primo/paperback/product-18665923.html
IL RACCONTO
Vasco e Medea – Capitolo 8°

[…]
I grossi lastroni di lava grigia levigati dai passi di migliaia di persone, orlavano un tratto minimo dello spiazzo destinato alle manovre di attracco; subito accanto, una macchia bruttura di asfalto sconnesso adduceva a diverse stradine, queste sì, già dal primo impatto, coreografiche, quasi personalizzate dagli abitanti e dalle attività annesse.
Scelsero, è facile intuirne il motivo, il viottolo a tratti in leggera pendenza incassato tra pareti di tufo verde chiazzate da prepotenti arbusti di gialle ginestre –ginestra, fiore amato dalla mia donna-.
Su in cima, oltre filari di limoni ed oleandri carichi di frutti e di fiori, giunsero ad un gruppo di vecchie costruzioni tinteggiate con impasti di calce dai colori pastello, chiari, luminosi; prive di un ordine apparente e senza segni esterni identificativi che non fossero gerani rosso fuoco ai balconi, glicini appiccicati alle pareti.
Due pini e due palme tutti ultracentenari, quasi cingevano come baluardi il più vecchio palazzo, al cui ingresso un alto cancello di ferro battuto adornato da volute arabesche mostrava, in fondo ad un viale polveroso, tratti sconnessi di un muro di cinta in parte crollato, formato da pietre grigie semplicemente sovrapposte, che ostruiva, spezzava, limitava, la fitta boscaglia e le piante di alto fusto subito accanto predominanti.
Una strada di recente costruzione, sgradevole, sgraziata, stonata, si immetteva in quella minima piazzola, dal lato opposto rispetto alla direzione del loro arrivo, a sinistra del cancello, completando il suo percorso in una specie di slargo appositamente adibito a deposito di rifiuti.
Assurdo.
Criminali.
La vecchia villa sfregiata.
Pazzi.
Stronzi.
L’incanto accecato.
Rimasero confusi tra ginestre (ginestra, fiore amato dalla mia donna) e pattume, ognuno fisso, con i sentimenti oltraggiati, tentando di capire se profanare è una vendetta od una maledizione, se il male sopravvive a se stesso per debolezza del suo antagonista oppure per sciocchi abbagli di clemenza.
Mai un silenzio li aveva visti così uniti, insieme indifesi, cruenti, aggressivi.
“Maledetti.
Siate maledetti.”
Da Vasco e Medea lo stesso grido.

Fu lì che lo rividero…

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

A Vasco

A cavallo dell’orso
scimmiotta
la folla disseminata
nel prato di uno stadio
-Ah Vasco!-
tra fumo stellare
il verso del lupo nella steppa:
Uhh Uhh Uhh.

Ritorna assassino
nell’ombra ballerina dei vincenti
il fallo abbandonato
nella doccia
-Ah Vasco!-
per uomini incerti
in teneri sguardi alla luna:
Uhh Uhh Uhh.

Quando
un giorno avrai uno specchio
avrai due occhi
per ascoltare una canzone
in solitudine
-Ah Vasco!-
dimmi quel posto.
Io vengo.
Uhh Uhh Uhh.

Dal racconto “Vasco e Medea” scritto da Bruno Mancini

 

Angela Maria Tiberi intervista DOMENICO UMBRO

in esclusiva per IL DISPARI

Diplomato in clarinetto al Conservatorio Tchaikovsky, diplomato a Perugia con Ciro Scarponi all’Accademia italiana di clarinetto.
Corsi di alto perfezionamento con i docenti Ciro Scarponi, Pasquale Lorenzo, Guido Arbonelli, Francesco Giardino, Fabrizio Meloni, Giuseppe Garbarino, Alessio Vicario.

Per il terzo anno consecutivo è stato presente al Bookcity di Milano 2019, come musicista dei progetti culturali Made in Ischia presentati dall’Associazione Da Ischia L’Arte-DILA.

Infatti, DILA l’aveva già proposto come concertista solista, prima nell’Auditorium del Museo delle Culture MUDEC (2017) e poi nell’Aula Magna della Società d’Incoraggiamento Arti e Mestieri –SIAM e nell’Auditorium di Mare Culturale Urbano (2018).

Con Raffaele Pagliaruli ha costituito il “Duo Giavanese” che ha in calendario numerosi concerti a Milano, Torino, Giaveno e in Svizzera.

Ha ricevuto numerosi attestati di stima e calorosi consensi dal pubblico e dalla stampa.

D:- Quale emozione ha ricevuto nel partecipare agli eventi DILA – ISCHIA e suonare i brani di Roberto Prandin?
R:- Emozionante partecipare agli eventi DILA e suonare a MILANO nella sede dell’Accademia della Scala; altrettanto emozionante eseguire le composizioni di Roberto Prandin.
Insieme a Raffaele Pagliaruli abbiamo eseguito i due brani musicali per clarinetto, flauto e voce recitante “La forza di Ignazie” e “Soggiorno per uomini stanchi“, scritti appositamente per l’evento Bookcity dal compositore Roberto Prandin su testi di Bruno Mancini.

D:- Quando è avvenuto il primo incontro con Bruno Mancini?
R:- L’incontro con Bruno Mancini è iniziato tre anni fa, nel 2017, grazie al mio maestro Guido Altobelli, poi ho partecipato al Bookcity – MUDEC di Milano, e successivamente ho tenuto fermi i contatti con Bruno per gli eventi con DILA.
Nel 2018 ho eseguito la sinfonia “Ischia op. 45” di Roberto Prandin.

D:- Quali sono i prossimi obiettivi?
R:- Suonare a Torino, Svizzera, Milano, Ischia.

Mi complimento con Domenico Umbro per l’alta prestazione dei concerti che ha eseguito nell’Aula della SIAM e alla Cascina Casottello di Milano, insieme a Raffaele Pagliaruli, alla violinista Maria Luisa Neri e alla pianista Santina Amici.

Angela Maria Tiberi

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

Prossimamente:
“Il ritorno di Emanuela Di Stefano”

Poetessa, pittrice, decoratrice, opinionista di questa testata giornalistica, primo premio “Otto milioni” 2014 assegnato dalla Giuria presieduta dal Comune di Torrenova alla sua poesia “Il mare il pescatore ed io“.

M’assopisco sul tuo letto
e tu mi racconti
di un pescatore senza remi
innamorato di te e di me.
Un uomo libero e audace
che intride i suoi occhi
da una terra all’altra,
che m’incendia
da una duna all’altra,
come tu infrangi
le onde sugli scogli
per placar le braccia piene al tocco,
verso la meta a me più cara.
è gonfio il respiro e
m’accompagna in questo sogno
da raccontare al mondo.
Non vi è limite
a questa nostra passione,
sempre in movimento affonda
morbidi baci, ingordi
e divorati sulla tavola
imbandita di una notte d’amore.

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

Il Dispari 20191216 – Redazione culturale

 

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Editoriale | “L’appuntamento” al Bookcity 2019

Lo scorso 16 novembre, nell’Aula magna della SIAM (Società d’Incoraggiamento Arti e Mestieri) di Milano, l’Associazione culturale “Da Ischia L’Arte – DILA” ha presentato l’evento “Otto milioni” il cui focus è stato l’antologia di Arti varie “Magari un’emozione!” contenente, tra l’altro, alcuni brani tratti da miei racconti.
Con cadenza settimanale li stiamo pubblicando tutti in questa pagina, augurandovi una buona lettura.

DAL LIBRO
Per Aurora volume primo

http://www.lulu.com/shop/bruno-mancini/per-aurora-volume-primo/paperback/product-18665923.html

IL RACCONTO
L’Appuntamento – Capitolo 4°

Non ricordo di averlo visto mai prima così bello e sicuro.

Non avrei potuto trovare una piega fuori posto allo smoking bianco senza sfumature, alla camicia sbottonata sul collo, alla barba tondeggiante, alle dita con l’inseparabile anello di rubino, alle mani poggiate sul bavero che inserivano all’occhiello una ginestra (ginestra fiore amato dalla mia donna).

Neppure le sue fantasticherie, le sue ostinazioni, i suoi dubbi, le sue speranze, se fossero venuti in superficie avrebbero tolto bellezza alla sfida che si accingeva ad accettare.

Verificare. In maniera definitiva. Senza alibi.
Senza veli.
Verificare.
Sapeva bene che andando all’appuntamento si sarebbe, in modo irreversibile, preclusa la possibilità di salire sull’ultimo battello in partenza dall’isola verso le certezze della sua vita.
Eppure mentre poggiava il piede sul primo gradino… non so, mi turba l’ennesima incertezza…

Bruno Mancini

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Stupiti dal reportage fotografico esclusivo di
Alberto Ghirardini dal “Fronte oceanico del Massachusetts”

A volte, dove meno te lo aspetti, ti capita di sbattere il muso contro realtà magnifiche che non avresti mai immaginato potessero essere, non dico realizzate, ma nemmeno semplicemente concepite in realtà sociali che gli stereotipi comuni ci inducono a credere propense alla “coltivazione” di ben altre colture, sì colture e non culture.

Un parco pubblico, donato ai cittadini da grossi e piccoli benefattori, che abbia come tema la poesia, sembra un vero e proprio anatema se collocato nella pragmatica vitalità dei discendenti di coloro che le terre americane hanno utilizzate, nei secoli, come pascoli o come pozzi petroliferi o come suoli per la costruzione di grattacieli!

Eppure, grazie al nostro singolare inviato specialissimo sul fronte oceanico del Massachusetts, Alberto Ghirardini, oggi dobbiamo stracciare cataste di pregiudizi alla vista delle foto con cui egli ci documenta che in Osterville esiste un meraviglioso parco denominato “GIARDINO DELLE POESIE” .

Lì, molte poesie sono proprio esposte fisicamente alla lettura del visitatore, all’aperto, su un tragitto a passerella.

Ne ha fotografate due: la prima è dedicata agli alberi “TREES” appunto e inizia dicendo che “Mai un poema potrà essere più bello di un albero…“, e la seconda dal titolo “THE ROSE” (che poi è stata messa in musica e cantata dolcemente da Bette Midler e la si può trovare e ascoltare su youtube) ha un finale dolce e malinconico quanto basta dicendo “Ricordati in inverno che sotto la neve amara, giace il seme che con l’amore del sole in primavera diventerà una rosa“!

Le passerelle portano i nomi dei singoli o delle famiglie dei donatori; il parco è di circa 10 acri, ha panchine qua e là, e si snoda tra sentieri con nomi e targhe dedicate a persone care; gli alberi portano le diciture latine e USA del nome botanico; si è immersi nel silenzio più totale.

Conoscendo la mia inclinazione ai versi o testi scritti, Alberto Ghirardini mi ha stupito con un regalo che mi fa piacere di condividere con tutti voi… e se qualcuno passerà da quelle parti ce ne mandi una sua considerazione.

Bruno Mancini

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

Il Dispari 20191209

TWITTERONE

1) Da Liga Sarah Lapinska

Per conto dell’Associazione culturale “Da Ischia L’Arte – DILA” ho regalato alcune mie opere pittoriche
a) “The Morning of Princess” all’attrice, giornalista e bella lady, Ilze Zeimule-Stepanova: una delle finaliste dei Premi Made in Ischia “Otto milioni”..
b) “The Meditation about the Peace” alla nostra stimata Anastasya Lide, omaggiandone
la saggezza e la cordialita.
c) “Our Rainbows” al mio amico Vilis Ļevčenoks, adesso molto occupato, che da tempo supporta le nostre attività.

2) Da Lucia Fusco

La vita ci insegna che bisogna volare alto” scriveva Alda Merini, ma la violenza spinge in basso l’umanità tutta.
La violenza cesserà solo quando gli esseri umani condanneranno nel cuore ogni tipo di violenza, contro persone, animali, cose, idee, popoli, ideali.

In occasione della Giornata Contro la Violenza sulle Donne, tra le tante belle ed emozionanti manifestazioni nel territorio lepino ha ottenuto grande risalto l’evento AMORE SICUREZZA DONNA organizzato dal Cif di Latina, Centro Italiano Femminile.
La Presidente Fiorella Mancini ha gentilmente ospitato presso la Casa del Combattente diverse voci.

Un pubblico numeroso ha potuto ricevere il saluto iniziale del sindaco Damiano Coletta e l’invito al rispetto tra tutti gli esseri umani, per poi godere dei contributi di Patrizia Ciccarelli, Assessore alle Politiche di Welfare; Veronica Manfrin, Psicologa; Marita Ricagni, Presidente Regionale del Cif.

I ragazzi della Vigormusic hanno letto diverse testimonianze di donne vittima della violenza domestica e presentato il corto “Donne Allegre” per condannare il dramma della prostituzione, sottolineando la prepotenza che a volte si fa indifferenza, l’uso e l’abuso della donna, la violenza fisica, verbale, metalinguistica.

La regista Donatella Cotesta ha recitato un brano dal film “La Ciociara” vibrante di dolore e orgoglio, passando in sala tra i presenti.

Il Maestro Francesco Molinari ha cantato accompagnandosi con la chitarra, come un moderno rapsodo.

La sala era adornata dei quadri maestosi e colorati della valentissima artista Milena Petrarca, Presidente Sede operativa della Regione Campania per conto dell’Associazione culturale “Da Ischia L’Arte – DILA“, vibranti di femminilità e bellezza.

Tra il pubblico Flora Rucco, artista e critica d’Arte; Angela Maria Tiberi, poetessa e Presidente DILA Nazione Italia; Abbè Laurent Kpogo, ViceVescovo di Lomè; Mileda Polizzi, Presidente Fidapa; Gianna Castellitto, Vice Presidente INR WHEEL; Carmen Milluzzo, Ispettrice Crocerossine; Eugenio Annino, Presidente Serra Club; Franco Federici, Presidente della Fedelissima Onlus; Giorgio Loddo di UCID; Franco e Laila Pitton del Rotary Club di Pomezia.

È la cultura, l’atteggiamento, il modo di esprimersi ogni giorno che va cambiato, che deve virare verso il Rispetto”, questo è il messaggio che, come un seme, rimane di questo bell’evento che si è concluso con un potente concerto del Gruppo Cantautorando.

3) Da Angela Maria Tiberi

“La Traviata” ha riscosso uno strepitoso successo al Teatro Moderno di Latina.
L’associazione Latina Lirica è stata premiata dal pubblico per lo spettacolo organizzato con tanta passione dalla famiglia Cappelli e un grande elogio va riconosciuto al Direttore Domenico Cappelli che sceglie i protagonisti tra i big della lirica, il quale ha dichiarato “L’Opera è l’unica arte completa, sintesi perfetta di tutte le altre“.

Il soprano Linda Campanella ha saputo interpretare magnificamente il personaggio di Violetta. tanto che l’ultimo saluto al suo amato ha commosso il pubblico riuscendo a toccare l’anima degli spettatori.

Giuseppe Varano ha interpretato superbamente il personaggio di Alfredo e molta commozione ha suscitato nel pubblico cantando le celebri arie dell’opera di Verdi.

Il Baritono Giorgio Gatti ha interpretato splendidamente il ruolo del Marchese Germont .
Grandioso è stato tutto il cast lirico.

In seguito avremo modo di parlare ampiamente degli Artisti che hanno resa indimenticabile questa produzione di musica lirica, senza escludere la possibilità che ciascuno di loro rilasci un’intervista esclusiva per le colonne di questa pagina culturale IL DISPARI alla quale ci onoriamo di poter dare un nostro piccolissimo contributo.

Il Dispari 20191209 – Redazione culturale

 

Hits: 23

Premi Otto milioni 2020 – Nona edizione

Premi Otto milioni 2020 – Nona edizione

Premi Otto milioni 2020

Dichiarazioni iscrizioni premi “Otto milioni” 2020
Regolamenti partecipazioni premi “Otto milioni” 2020
Bandi completi premi “Otto milioni” 2020

Poesia – Premio “Otto milioni” 2020
Premio poesia Otto milioni 2020 Regolamento partecipazione pdf

Premio poesia Otto milioni 2020 Dichiarazione pdf

Premio poesia Otto milioni 2019 20Bando completo pdf

Narrativa – Premio “Otto milioni” 2020
Premio narrativa Otto milioni 2020 Regolamento partecipazione pdf

Premio narrativa Otto milioni 2020 Dichiarazione pdf

Premio narrativa Otto milioni 2020 Bando completo pdf

Musica – Premio “Otto milioni” 2020
Premio musica Otto milioni 2020 Regolamento partecipazione pdf

Premio musica Otto milioni 2020 Dichiarazione pdf

Premio musica Otto milioni 2020 Bando completo ok

Arti grafiche – Premio “Otto milioni” 2020
Premio arti grafiche Otto milioni 2020 Regolamento partecipazione pdf

Premio arti grafiche Otto milioni 2020 Dichiarazione pdf

Premio arti grafiche Otto milioni 2020 Bando completo pdf

Giornalismo – Premio “Otto milioni” 2020
Premio giornalismo Otto milioni 2020 Regolamento partecipazione pdf

Premio giornalismo Otto milioni 2020 Dichiarazione pdf

Premio giornalismo Otto milioni 2020 Bando completo pdf

Recitazione – Premio “Otto milioni” 2020
Premio recitazione Otto milioni 2020 Regolamento partecipazione pdf

Premio recitazione Otto milioni 2020 Dichiarazione pdf

Premio recitazione Otto milioni 2020 Bando completo pdf

Comunicazione ufficiale vincitori “Otto milioni” 2020
Cerimonia premiazione vincitori “Otto milioni” 2020
Attestati “Otto milioni” 2020
Rassegna stampa “Otto milioni” 2020
Rassegna fotografica “Otto milioni” 2020
Video “Otto milioni” 2020

Hits: 7